Berebut Lulus UN

Detik-detik menjelang UN telah beredar kunci jawaban soal UN yang disebarkan secara berjemaah lewat SMS dan diterima oleh siswa peserta ujian...

Pesona Pulau Pasir Putih Lihaga

“Pak Rory, berapa sewa kapal ke Lihaga?” tanya saya seusai foto-foto. “Enam ratusan ribu. Tergantung juga permintaan..

Puisi: Jejak Kehidupan

“Setiap perjalanan adalah langkah. Setiap langkah adalah jejak. Dan jejakku menuju ke kabut”.

Age Quod Agis

Age Quod Agis, ungkapan bahasa Latin ini, mempunyai arti, "lalukanlah apa yang harus dilakukan". Tentu, artinya bukan asal mengerjakan..

Menangkap Garis Mitos Gunung Lokon

Mitos Opo Lokon dipercaya oleh masyarakat karena telah menyelamatkan dari setiap kali Gunung Lokon meletus atau sering disebut “ba sembur” atau “polote”.

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Pesona, Pulau Pasir Putih Lihaga




Deru mesin diesel minibus warna Silver, berkapasitas 12 orang, berubah menjadi musik sepanjang perjalanan wisata kami ke Pulau Lihaga. Kami berangkat dari Moyaporong, salah satu spot wisata religi bagian dari Bukit Doa di Tomohon sekitar pukul 9 pagi sehabis sarapan. 

Melihat birunya langit, saya dan rombongan yang berjumlah 10 orang tak langsung mengarah ke pulau tapi menuju ke Selatan untuk singgah ke Danau Linow, Lahendong. Tak kurang dari 20 menit menikmati danau vulkanik biru bergradasi hijau putih, kami kemudian bergerak ke pulau Lihaga.
Ke pelabuhan Serei di Kecamatan Likupang, Minahasa Utara itulah rute yang akan kami tempuh. dan dalam waktu dua jam lebih beberapa menit kami tiba di tujuan. Lamanya perjalanan tak membuat kami bosan karena sepanjang perjalanan kami ngobrol.

“Pak Bambang dan Bu Ira, sudah beberapa kali ke Manado?” tanya Jeff teman saya. “Kalau saya baru pertama kali datang ke Manado. Beda dengan bu Ira. Seringkali.” Jawab Pak Bambang dan sementara saya lihat wajah Ibu Ira tersenyum sambil mengiyakan ucapan Pak Bambang.

“Pulau Lihaga itu persisnya ada di mana sih?” ganti Pak Bambang bertanya kepada kami. “Lihaga, kalau dalam peta, berada di ujung atas pulau Sulawesi yang berbentuk huruf K. Kalau disambung bisa sampai ke General Santos, Davao, Philipina. Dan sederet dengan Pulau Sangir Talaud, Talise, Bangka. Gangga, pulau terdekat dengan Lihaga.” Jawab saya ikut menjelaskan.

Ke Lihaga bisa lewat laut. Tak jarang wisatawan datang dari Bunaken dengan kapal bermesin besar agar jarak tempuhnya bisa lebih singkat. Satu jam kira-kira perjalanan dari Bunaken ke Lihaga. Dipertigaan Sukur, kami belok kekiri. Dari sini, terus saja tanpa belok ke arah TPI, pelabuhan Likupang. Setelah itu, terus menuju ke Serei.  Jalan aspal menuju ke Serei sudah mengelupas sehingga laju minibus diperlambat agar tak terlalu keras goncangannya. Setibanya di pelabuhan, kapal perahu nelayan yang telah dipesan oleh Jeff teman saya sudah menunggu kedatangan kami.

Tak lama setelah barang bawaan kami seperti nasi kuning, air mineral, kukis, dan tas-tas masuk dalam kabin, deru suara mesin kapal terdengar. Kami bawa bekal karena di pulau tidak ada orang jual. Pelan namun pasti kapal dengan dua mesin dan berkapasitas penumpang hingga 25 orang, serta beratap bergerak tinggalkan dermaga. 


Indahnya pemandangan laut menggerakkan tangan saya untuk menghidupkan kamera. Agar dapat obyek foto terbaik, saya duduk di atap kapal. Dari atap samar-sama Lihaga sudah terlihat. Teriknya matahari  terasa membakar kulit, tetapi tak menyurutkan niat saya untuk ambil foto. Tiga teman saya ikut pula naik ke atap.

“Pak Rory, berapa sewa kapal ke Lihaga?” tanya saya seusai foto-foto. “Enam ratusan ribu. Tergantung juga permintaan. Kalau ada order keliling pulau, ya nanti nego, karena banyak habiskan minyak. Nambah ongkos lagi” Jawab pak Rory, salah satu awak kapal. Dari percakapan, ternyata pak Rory sudah biasa dipesan wisatawan yang akan datang ke pulau Lihaga. Hari libur, Jumat dan Sabtu paling banyak rombongan datang wisata ke pulau yang luasnya 8 ha.

Sekitar lima belas menit kami sudah mendekati pulau. Sebelum berlabuh, kami keliling pulau itu melihat keindahan bibir pantainya yang sebagian berupa batu karang. Tak kurang dari 7 menit, kami sudah keliling pulau. “Batu karang itu untuk menahan ombak tinggi dari arah Timur karena memang langsung berhadapan dengan perairan lepas Laut Sulawesi” jelas pak Rory sambil menujuk pantai berkarang. 

Akhirnya kami berlabuh sebelah Barat pulau Lihaga. Begitu turun dari kapal, hamparan pasir putih lembut seperti “powder” sambut kedatangan kami. Airnya yang jernih langsung menggoda niat kami untuk langsung berenang atau snorkeling. 

Setelah menurunkan barang bawaan dan meletakkan di meja kayu tak jauh dari bibir pantai, saya pun melanjutkan hunting foto lanskap alam sekitar pulau. Terpesona indahnya, tak terasa saya sudah habiskan banyak frame foto. 

Saya lihat teman-teman saya berkejar-kejaran di pinggir pantai sambil berusaha saling membasahi dan mendorong hingga jatuh bergelimpangan antara pasir putih dan air laut. Sementara yang lain pun tampak berenang di tempat yang tidak dalam. Yang bawa peralatan snorkeling langsung berburu pemandangan di dasar laut. Yang lain duduk di kursi bambu menikmati alam dan ada yang jalan-jalan sepanjang pantai sambil berfoto pakai hapenya. Udara panas tak begitu dihiraukan begitu menyentuh air laut dan pasir putih pantai.
Aktifitas itu terhenti sejenak untuk makan siang bersama. Nasi kuning dan kue akhirnya mengganjal perut lapar saya. Hanya enak dan lahap, yang saya rasakan. Setelah makan, ada yang masih melanjutkan berenang sambil bersendau gurau. 

Di pulau itu sudah tersedia toilet dan ruang ganti. Satu rumah kayu ukuran kecil juga ada. Katanya kadang ada wisatawan yang menginap. Keterbatasan air bilas, membuat kesulitan bagi yang mandi setelah berenang. Tapi bagi teman-teman saya bukan halangan karena sesampai di rumah ia akan langsung mandi. Selain itu, di pulau kini ada penjaganya.  Membersihkan pulau dari sampah dan membantu kebutuhan para pengunjung, menjadi jasa mereka. Untuk jasanya ini kami memberi uang tinggalan secukupnya.

Sekitar jam tiga sore lebih saat teriknya panas matahari tak terlalu terasa lagi, kami memutuskan untuk pulang supaya sampai di Tomohon tidak terlalu malam. Dalam perjalanan pulang, keindahan pulau Lihaga menjadi sentral percakapan kami. 

“Jika dikelola dengan baik dan ditambah dengan fasilitas wisata seperti penginapan, restoran dan perlengkapan wisata bahari seperti jet sky, diving, dan snorkeling. Pasti banyak yang suka datang.” Kata pak Bambang, konsultan pariwisata dan hotel dari Surabaya.  Pulau itu alami dan belum dikelola dengan baik. Meski demikian sudah banyak yang datang ke pulau itu untuk berbagai kegiatan seperti outing, family gathering, hunting foto dan lainnya.

Di muat di Kompasiana, HL, 21 April 2012

Dilarang Keras Mendaki Gunung Lokon!



“Jalur pendakian menuju kawah Tompaluan, masih berstatus rawan bahaya bagi warga dan pendaki yang biasa melakukan aktivitas di sekitar Gunung Lokon”, demikian pengumuman dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Tomohon.

Pasca letusan 10 Februari 2012, Gunung Lokon masih terlihat mengeluarkan asap putih tebal setinggi 300 meter.  Warga yang mengendarai sepeda motor tanpa helm, terkadang merasakan matanya pedih terkena abu vulkanik.

“Pagi-pagi, sebelum ke kantor, saya harus mencuci sepeda motor karena semalam terkena debu Lokon.  Namun, aktivitas seperti ini sudah biasa saya lakukan. Bahkan, ini menjadi pertanda aktivitas gunung berapi Lokon sedang meningkat” ujar Stenly yang rumahnya berada di radius  2 km dari kawah Tompaluan di desa Kakaskasen II.

Akses menuju ke kawah Tompaluan bisa melalui jalur Kinilow, Kakaskasen atau Wailan di Tomohon Utara.  Akses ini kini dijaga dan ditutup untuk pendakian karena sangat membahayakan bagi warga atau pendaki. Terpantau dari BMG Tomohon, terjadi beberapa kali gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam dan tremor dengan amplitudo 0,5 mm hingga 4 mm.

Karena itu, warga masyarakat hendaknya berjaga-jaga. Status Gunung Lokon sekarang adalah status siaga level tiga. Sebulan ke depan pasca letusan kemarin, PVBMG Tomohon berjanji akan mengevaluasi apakah ada penurunan atau peningkatan aktivitas.  Meski demikian, diingatkan bahwa radius bahaya masih 2,5 km dari kawah Tompaluan.

Meski dikeluarkan larangan pendakian, Gunung Lokon masih tetap mempesona. Terbukti banyak wisatawan masih berdatangan ke Bukit Doa yang terletak di lereng Gunung Mahawu. Sebuah lokasi wisata rohani yang posisinya sangat strategis untuk melihat langsung kawah Gunung tanpa halangan apa pun. Karena itu, tak sedikit pengunjung menyempatkan diri untuk berfoto dengan background Gunung Lokon.

“Saya jauh-jauh datang dari Surabaya hanyan ingin berfoto dengan latar belakang Gunung Lokon yang sedang berasap” kata salah satu pengunjung dengan bangganya. Dengan berfoto itu, larangan pendakian Gunung Lokon itu tidak tidak menyurutkan keinginan orang untuk menikmati indahnya alam Gunung Lokon dan sekitarnya.

Ketika membuat tulisan ini siang tadi, sekitar pukul sebelas siang, saya mendengar kabar bahwa Gunung Lokon “basembur ulang” atau meletus lagi. Namun saya masih mergukan berita itu. Soalnya, tak terdengar suara gemuruh seperti letusan hari Jumat 10 Februari yang lalu.

Bersamaan denganberita itu, hujan lebat dan berkabut melanda sebagian besar Tomohon. Sejauh mata memandang ke arah Gunung Lokon, tidak terlihat letusan itu karena terhalang oleh kabut. Kabar ini sempat membuat panik beberapa karyawan kami yang rumahnya di Kinilow, desa terdekat dengan kawah Gunung Lokon. Mereka ditelpon dari rumah bahwa Gunung Lokon basembur ulang.

Tidak lama kemudian, hujan reda. Langit biru mulai nampak. Kemudian saya keluar dari kantor untuk mengecek kebenaran berita itum dengan melihat langsung pada lubang kawah. Gumpalan “brokoli”  asap putih dari kawah Tompulan masih terlihat jelas. Masyarakat sekitar jika gumpalan itu berwarna putih, itu berarti masih aman-aman saja. Menjadi berbahaya, jika gumpalan asap vulkanik itu berwarna hitam keabu-abuan.

Sekarang ini, status Gunung Lokon masih ditetapkan oleh PVBMG Tomohon dalam kondisi siaga level tiga. Sebuah kondisi sebelum ditingkat menjadi awas. Karena itu, dilarang keras bagi warga atau pendaki untuk mengadakan kegiatan pendakian atau pergi berkebun.