Berebut Lulus UN

Detik-detik menjelang UN telah beredar kunci jawaban soal UN yang disebarkan secara berjemaah lewat SMS dan diterima oleh siswa peserta ujian...

Pesona Pulau Pasir Putih Lihaga

“Pak Rory, berapa sewa kapal ke Lihaga?” tanya saya seusai foto-foto. “Enam ratusan ribu. Tergantung juga permintaan..

Puisi: Jejak Kehidupan

“Setiap perjalanan adalah langkah. Setiap langkah adalah jejak. Dan jejakku menuju ke kabut”.

Age Quod Agis

Age Quod Agis, ungkapan bahasa Latin ini, mempunyai arti, "lalukanlah apa yang harus dilakukan". Tentu, artinya bukan asal mengerjakan..

Menangkap Garis Mitos Gunung Lokon

Mitos Opo Lokon dipercaya oleh masyarakat karena telah menyelamatkan dari setiap kali Gunung Lokon meletus atau sering disebut “ba sembur” atau “polote”.

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Twitter Puisi




Kalau saya ditanya, apa itu puisi, maka saya akan mendefinisikan puisi adalah kristalisasi penulis (penyair) dari bahasa tubuhnya (body language) terhadap objek yang dilihat. Lebih detailnya, yang dimaksud dengan kristalisasi adalah proses “rekaman” atau pengolahan data dengan menggunakan semua inderanya (perasaan, batin, pikiran, hati, penciuman) menjadi sebuah kata kalimat indah yang bisa terucapkan atau dituliskan.

Tak semua orang setuju dengan definisi itu. Ada yang mendefinisikan puisi setelah puisi itu jadi. Maksudnya, rangkaian kata kalimat diurai dan dianalisa satu persatu, mulai dari struktur puisinya, pilihan dan makna setiap kata, pesan yang disampaikan oleh penyair, irama atau musik yang diciptakan, hingga bunyi akhir dari setiap baris pun dilirik untuk membuat definisi puisi.

Apa yang saya sampaikan itu, juga merupakan upaya saya untuk memahami dan mengerti apa itu puisi. Pengalaman saya membuat puisi, mengajarkan bahwa puisi lebih sulit ketimbang menulis repotase, opini atau cerpen dan novel. Mengapa ini saya katakan, karena kendati kata-kata atau kalimat yang digunakan untuk puisi itu pendek, namun sulitnya adalah memilih kata yang mempunyai unsur bias, bermakna dan indah.

Media jejaring sosial seperti facebook, twitter atau yang lainnya, kini menjadi media yang mudah untuk menuangkan puisi para penggunanya. Status update diubahnya menjadi media berpuisi oleh penggunanya. Memang tidak semua orang beraktivitas seperti itu. Namun, tak jarang saya membaca status update seseorang dengan kata kalimat puitis. Apakah fenomena ini boleh dikatakan Twitter Puisi? Kicauan berpuisi? Yang jelas saya menghargai para pemilik akun jejaring sosial sudah mencoba memilih kata kalimat puitis itu sesuai dengan rekaman bahasa tubuhnya.

Sebagai contoh saya membaca puisi yang ditulis di wall salah satu pertemanan  fb saya,

“Sudah April, Hujan.../ dan rindu itu tak usai/ ketika kau mengetuk senyapku/ menyodorkan dawai lama / yang mesti kupetik lagi/ dan seketika aku tersadar/ oleh rengkuhan mesramu pada malam yang menggigil/dalam diam” ( JL, dalam ketakterjangkauan cinta hujan kepada pemujanya) @Jane AAL, 4 April 2012.

Dari puisinya itu, Jane mencoba menggambarkan suasana hujan yang mengingatkan dia saat pertemuan dengan kekasihnya. Momen seperti itu agaknya akan dihadirkan kembali melalui petikan (gitar) namun diberi makna kuat pada perlindungan suami (setelah menikah) selama-lamanya pun ketika ia merasa sendiri. Berbeda dengan puisi berikutnya. Keharmonisan iman dan perbuatan manusia terhadap Sang Pencipta sedikit terganggu oleh angkara murka manusia yang tak hentinya menyebabkan keluarnya airmata (duka) bagi orang lain. Akibat dosa?  Seperti inilah yang ia tulis di status fb-nya,

“Di kedalaman kesadaran kita/ Surga merintih dan memori memori malaikat meneteskan airmata yang tidak sampai ke bumi. / Airmata itu tertahan di lapisan atmosfer bernama angkara./ Dan seketika manusia tidak mampu lagi membedakan airmata surga dan musik yang mengalun dari ruang musik milik malaikat./ Manusia terlalu sibuk dengan airmata airmata dan lagu karangan mereka sendiri” (JL, pada ekstasi selera jiwa) @Jane AAL, 2 April 2012

Saya pun juga sering menulis puisi di wall fb saya. Salah satunya seperti ini.

“[jejak hari] - hari-hari matahari tidak nongol, siang jadi sore, sore jadi rabun, mata jadi pedas menatap silau kaca bersinar, membosankan tetapi bisa ceria tidak seperti jatuhnya gerimis dan sapuan angin hingga dedaunan menari-nari mengejar langit, kalau sudah begitu sebongkah dingin terasa menancap di sendi tulang. Hari ini adalah ruang yang menggigil.”  (Jejak Hari, 13 Maret 2012)

Puisi ini saya buat karena saya terjebak oleh cuaca ekstrem yang membuat saya seakan tak kuasa untuk berbuat yang terbaik bagi orang lain. Ruang yang menggigil adalah hidup yang selalu terbelenggu oleh pekerjaan yang kurang bermanfaat dan membekukan kemanusiaan seorang.

Dalam perjalanan pulang ke Jawa, saya kadang sempat menulis puisi di wall saya tentang situasi sosial masyarkat saya lihat dan menarik untuk diwartakan.

“kubuka pagi pada jendelaku/ tak ada embun menempel lagi pada kaca /hanya goresan berdebu jadi jejak/ wajah langit pun tampak muram seram/ mengapa polusi kota menghapus biru langitmu? // sejukmu bukan dari pohon lagi/ tapi dari mesin kamar AC-ku/ Jejak manusia padat di kota/mengusir embun dari keringat jendela/ menampar setiap langkah pagi/ kapan kau ramah pada sekitarku (bandung | 2011.11.02)

Kicauan atau status update di jejaring sosial, tidak lagi dipakai untuk menulis kegalauan hati atau pemberitahuan keberadaan seorang dengan segala aktivitasnya, namun bisa juga untuk media berpuisi. Karena itu, saya lebih suka menamakan Twitter Puisi. Siapa tahu, kicauan puisinya menarik hati penerbit sehingga dicetak menjadi Kumpulan Twitter Puisi yang barangkali perdana di Indonesia.

Pagi ini saya mendapat tag line yang berbunyi @jokopinurbo: Bulan adalah hosti yang akan dipecah-pecah dan dibagikan kepada ribuan malam. Rupanya ia kutip dari salah satu puisi dari Joko Pinurbo, penyair yang terkenal karena kumpulan puisinya yang berjudul “Celana” (44 puisi) meraih “Sih Award” (2011)

Kreatifitas seseorang bisa disalurkan di media apa saja. Tak terkecuali di jejaring sosial. Jika banyak orang memanfaatkan media jejaring sosial untuk mengekspresikan puisinya, maka perkembangan sastra di Indonesia boleh dikatkan maju selangkah. Generasi baru penyair sesuai dengan “jamannya” jejaring sosial, niscaya akan bermunculan sehingga disebut generasi penyair twitter. Siapa tahu?

Sajak Anggur Merah Buat Presiden


Pada sebuah pesta rakyat
tanpa kertas undangan tersirat
kutuangkan gelas piala berisi anggur
untuk Bapak Presiden dari tanah makmur.

Beliau datang melalui jendela sepi
sendirian tanpa ditemani istri
Galau hatiku sudah kusapu
hanya untuk bisa toast bersama beliau.

“Selamat malam Bapak Presiden,
mohon toast dengan saya kali ini saja”
Kemudian dua gelas piala saling beradu
menggoyang air anggur merah penuh berkah.

Keringnya kerongkongan yang parau akan demokrasi
terpenuhi sudah oleh seremoni  malam ini.
Tampak Bapak Presiden tersenyum kental
menutupi kantong matanya yang makin tebal.

“Bapak Presiden terimakasih atas toasnya
malam ini.” kataku dengan antuisias
bersamaan rasa manis pahitnya anggur beras
yang mengalir di rongga asa.

Alunan musik bambu yang mengiringi seremoni
malam itu, makin menghentak memanaskan suasana
aku sendiri makin jauh dari Bapak Presiden
karena beliau sudah siap baca teks di mimbar kenegaraan.

Beliau berkata pada rakyat yang sedang berpesta
“Semua masalah negeri ini sudah saya serahkan kepada
KPK dan biarkan lembaga ini bekerja dengan baik.
Sekali lagi, itu bukan urusan saya lagi.”

Tiba-tiba gelas piala yang kupegang lepas
karena tanganku dingin dan bergetar gerah
selepas mendengar sambutan Bapak Presiden
hingga lantai bumi ini menjadi berdarah oleh anggur merah.

Kemudian aku terkapar
dan selalu jatuh di pangkuan ibu pertiwi..

(2011, November)

Puisi Jejak Kehidupan



Jejak Pagi

membuka mata, pintu jendela terbuka. Berdiri memandang ke arah langit. Tak ada sedikit pun kedip mentari pagi. Hanya putih berkabut menyelinap di sudut halaman taman.

Sosok pohon besar itu kekar menguat. Daun-daun jadi putih berselimut. Tak lagi menguap di antara sela titisan gerimis. Kakunya dingin tersandung mimpi. Kerjapun jadi bayangan tak terbatas.

Hentikan air matamu dari langit sebelah. Rupa berdansa sendirian. Kesana kemari membawa berita angin dan gemuruh rusuh hati.

“ Ini pagiku. Bukan pagimu. Di antara kita ada ruang. Ruang batin tak tersambung”.


Jejak Siang

bunga dalam kabut. Tak seindah kumbang terbang bersayap. Mengelilingi setiap sudut rajut rasa. Senang merayap. Tapi duka hinggap di setiap putik. Lemas dihisap wangi pada bulan madu.

Rona pipi ini sudah terhapus budi. Butir-butir air bekas hujan semalam. Menempel di  dinding setiap kelopak bunga. Ingin rasanya mengibas segala duka.

“Siapakah yang akan menyiapkan makanan siang. Aku lapar. Lapar pada keadilan negeri”


Jejak Malam

hanyalah kabut di perjalanan ini. Tak seperti biasa. Langkah terangmu bak polusi. Hanya dingin berdiri. Membeku ironi malam.

Dua lampu menyala. Menempel pada tiang kemustahilan. Tak sedap dipandang seperti bunga tadi siang. Rasakan kalau kau pulang larut malam. Dihadang segudang pertanyaan. Digadang sepanjang jalan ini.

Mau dibawa kemana hidup ini? Pemimpin adalah aku. Bukan pemimpinku. Jejak ini yang membawaku kemana langkah malam, pagi lalu siang.

“Setiap perjalanan adalah langkah. Setiap langkah adalah jejak. Dan jejakku menuju ke kabut”.


untuk teman-teman malamku, Maret 2012

Nyanyian Ombak dan Karang


kembali aku berdiri di atas dermaga
pada senja itu perahu-perahu mulai menderu
kembali mesin dihidupkan untuk berlayar
pada ombak dan karang, yang diarungi

kutatap cakrawala memerah pada garis bumi
di antara langit dan laut terbentang kisah
kutatap desah yang tak kesampaian saat lengah
pada lelah perjalanan mengisi ruang batin

“adinda, naiklah perahu itu dan jangan risi
pada ombak dan karang yang menghadang
adinda, pada layar putih perahu yang membentang
ada asa yang menjala rembulan sunyi”

aku dan adinda adalah nyanyian ombak dan karang
merdu terdengar di antara jejak perahu
aku dan dan adinda adalah nyanyian ombak dan karang
yang setiap pagi terdengar lewat jendela hati

“adinda, naiklah perahu itu dan jangan risi
pada jejak perahunya yang tergulung ombak
karena aku tahu hatimu tulus dan suci
melantunkan nyanyian ombak dan karang kita”

aku masih berdiri di atas demaga sendiri
mengumpulkan sunyi buat adinda agar esok tetap ada
lagu yang adinda nyanyikan itu ada di ruang batin
antara ketulusan dan kejujuran pada kasih

“selamat malam adinda”


(2011)