Harga BBM Naik, Kok Senang?




Polemik kenaikan harga BBM per 1 April 2012, semakin lama rasanya semakin seru. Berbagai pertimbangan mulai dari hukum, sosial budaya, politik, keamanan serta ekonomi global, satu per satu menghiasi topik pilihan bertajuk “Kenaikan Harga BBM”. Apapun alasannya, dipastikan kenaikan harga BBM tak bisa dibendung lagi.

“So ada minyak di pompa? Ada noh. Mar ba antri panjang.” kata rekan kerja saya menjawab pertanyaan saya tenang ketersediaan bensin di SPBU. Kata “minyak” bagi besar masyarakat Manado dan sekitarnya , berarti bensin. Bukan secara khusu untuk minyak tanah. Jadi pembicaraan tadi , maksudnya antri ei besin di SPBU.

“Kalau minyak so habis, bagaimana ngoni pi beli minyak? (kalau kehabisan, beli bensin di mana?)” kembali saya bertanya pada rekan kerja saya.

“Ah, gampang. Beli jo di botolan. Mahal sedikit mar kendaraan so bisa dipake ba jalan ulang” jawab teman saya. Kemudian teman saya menjelaskan bahwa harga bensin satu botol/ 1liter dijual dengan harga Rp. 6.500,-. Jadi penjual ambil untung Rp 2.000,- per botol dari harga resmi di SPBU Rp. 4.500,-

“Bagitu ee…” Jawab saya sambil mengangguk-angguk.

Pembicaraan soal minyak atau bensin yang harganya segera dinaikan oleh pemerintah dalam waktu dekat, makin “gayeng” (asyik juga) setelah beberapa rekan kerja saya memberi solusi dari dampak kenaikan harga BBM itu.

Saya sendiri semakin serius memperhatikan apa yang dimaksud dengan solusi itu oleh teman saya. Kemudian ia bercerita dengan penuh keyakinan di hadapan beberapa orang di kantor. Inti ceritanya begini.

“Jangan antri bensin di SPBU dengan menggunakan sepeda motor bebek. Pakai sepeda motor besar yang kapasitas tangkinya bisa 11 liter atau lebih. Isi foll itu tangki. Lalu sampai di rumah, bensin taruh di botol-botol. Kemudian jual itu bensin botolan di mua rumah seharga Rp. 6.500,- Berapa untungnya? 11 x Rp.2.000,- dapatnya Rp. 22.000,-. Sehari, bisa antri kurang lebih 4 kali. Jadi, lumayan kan untungnya? Buat nambah-nambah di samping ngojek.” kata teman saya dengan semangatnya.

Dengan kenaikan BBM nanti pasti keuntungan di depan mata semakin besar. Hal ini sangat memungkinkan karena kebih dari 2 tahun ini, pasokan BBM di SPBU dibatasi. Kalau mau antri, lama dan menyita waktu juga. Kondisi ini menciptakan kesempatan berbagai pihak untuk jualan bensin botolan di pinggir jalan.

Tapi bukan berarti tanpa resiko. Selain bahaya kebakaran, kini pihak aparat mulai mengawasi pratek jualan bensin di botol dengan alasan kuat yaitu ada upaya penimbunan bahan bakar minyak ilegal.

Di lain pihak, jika masyarakat mengetahui SPBU kosong, ia akan bertanya di mana jual bensin botolon. Lewat mulut ke mulut, akhirnya tahu di mana bisa beli bensin botolon meski harus membaryar lebih mahal. Akhirnya , penjual bensin botolan pun tersenyum senang karena dapat untung dan apalagi tangki bensin pakai tangki bensin mobil pick-up yang sudah dimodif terlebih dahulu.

0 komentar:

Posting Komentar